Sebuah Seni Melukai
Aku rapuh,
Raga kaku terpaku malu pada senyum di bibir rayu,
Aku payah,
Menikmati waktu sebagai pengagum sedang bukan milikku sejati,
Aku jatuh ke hati yang dimiliki hati lain
Mencintai diam tanpa memeluk dekapan,
Kadang cinta sebodoh itu,
Mengagumi dengan bijaksana
Melukai secara sengaja
Menggeluti sebagai hobi
Lalu beranggapan pemenang dalam fiksi
Aku mampu menulismu dalam satu tumpukan kertas buku,
Meski tanpa mendekap raga atau memeluk cinta
Tak masalah, asal buku itu kau baca,
Aku pun mampu melukiskanmu pada kanvas langit,
Sedang aku tahu, kau akan berakhir asing
Tak apa, asal kau melihatnya.
Sebenarnya, aku benci waktu yang hadirkan jarak, saat temu membatasi rindu,
Walau sebatas pemuja, itu tak adil.
Sama halnya, aku tak suka awan menjanjikan hujan saat mendung masih jauh,
Tak masalah, asal buku itu kau baca,
Aku pun mampu melukiskanmu pada kanvas langit,
Sedang aku tahu, kau akan berakhir asing
Tak apa, asal kau melihatnya.
Sebenarnya, aku benci waktu yang hadirkan jarak, saat temu membatasi rindu,
Walau sebatas pemuja, itu tak adil.
Sama halnya, aku tak suka awan menjanjikan hujan saat mendung masih jauh,
Sebab kepastian akan lebih dulu dipeluk angan sebelum kenyataan
Jadi tentang mu,
Biarkan aku melukisnya pada kanvas kosong yang semu,
Tanpa mesti menikmati peluk,
Ya, cukup sebatas itu.
Jadi tentang mu,
Biarkan aku melukisnya pada kanvas kosong yang semu,
Tanpa mesti menikmati peluk,
Ya, cukup sebatas itu.
__Denpasar, 03 Mei
Tidak ada komentar:
Posting Komentar